Gangguan Saluran Pencernaan

Gangguan Saluran Pencernaan

Beberapa gangguan saluran pencernaan yang sering dikeluhkan adalah gangguan iritasi usus, konstipasi/ susah Buang Air Besar (BAB) dan diare1. Dalam gangguan iritasi usus, salah satu gejala utama yang dikeluhkan oleh pasien adalah nyeri perut1.

Nyeri Perut

Diperkirakan 50% dari orang dewasa pernah mengalami nyeri perut2. Orang berusia lanjut (>65 tahun) dengan nyeri perut, memiliki 6-8 kali risiko kematian lebih tinggi2. Nyeri perut dapat terjadi dari kram usus yang berasal dari makanan, stres, dan lain-lain3.

Perbedaan gerakan peristaltik normal pada usus dibandingkan kram usus pada nyeri usus.

Nyeri perut butuh penanganan spesial yaitu dengan pengobatan antispasmodik karena obat antispasmodik bekerja dengan cara mengendurkan otot-otot saluran pencernaan4 dan tidak melewati sawar darah5. Dengan kata lain, antispasmodik bekerja tepat di saluran cerna4.

Selain untuk penggunaan nyeri perut, obat antispasmodik dengan kombinasi analgetik dapat digunakan untuk nyeri haid6. Di Indonesia, obat antispasmodik terdapat pada sediaan tablet dan injeksi.

Konstipasi atau Susah Buang Air Besar 

Susah Buang Air Besar (BAB) juga merupakan salah satu gangguan saluran pencernaan yang sering dikeluhkan. Susah BAB merupakan pengeluaran air besar yang tidak tuntas yang ditandai kotoran yang jarang dan/atau sulit keluar7. Selain itu juga ditandai BAB yang tidak memuaskan, frekuensi kurang dari 3 kali seminggu, atau sulitnya pengeluaran kotoran yang disebabkan kotoran yang keras7.

Penggambaran pada keadaan sulit BAB dimana terjadi penumpukan kotoran pada usus besar7.

Di Indonesia, 1 dari 2 orang mengalami konstipasi selama 3 bulan terakhir8. Wanita, dua hingga tiga kali lebih sering mengalami konstipasi dibandingkan pria9. Susah BAB juga dapat terjadi pada anak-anak di mana rata-rata kejadiannya adalah sebesar 14%. Dalam hal ini, anak laki-laki dengan konstipasi memiliki ketidakmampuan untuk mengontrol buang air besar yang lebih tinggi daripada anak perempuan10.

Pengobatan pada kasus susah BAB dapat mengunakan laksatif atau obat pencahar. Dulcolax merupakan brand laksatif yang terpercaya selama lebih dari 60 tahun di dunia dan merupakan brand dengan penjualan tertinggi di Indonesia11.

Dulcolax memiliki rangkaian produk untuk mengatasi susah BAB yaitu:

  1. Dulcolax Tablet12 Dulcolax Tablet merupakan tablet salut enterik yang diformulasikan untuk tahan terhadap cairan lambung dan usus halus. Dulcolax Tablet memiliki zat aktif Bisakodil yang merangsang pergerakan pada usus besar sehingga mempermudah pengeluaran kotoran atau BAB. Dengan cara kerja tersebut, rasa mulas pasti dialami atau normal terjadi setelah menggunakan Dulcolax. Dulcolax tablet salut enterik Bisakodil 5 mg bekerja semalam dan tersedia dalam kemasan sebagai berikut:
    • Box berisi 20 blister @10 tablet.
    • Box berisi 20 amplop @ 1 blister @ 4 tablet.
  2. Dulcolax Supositoria13

    Dulcolax Supositoria merupakan bentuk sediaan supositoria dengan penggunaan pada rektal/ anus. Dulcolax Supositoria bekerja dalam 30 menit untuk mengatasi susah BAB. Dulcolax Supositoria tersedia Bisacodyl 10 mg untuk dewasa dan 5 mg untuk anak yang tersedia dalam kemasan sebagai berikut:

    Dulcolax Supositoria 10 mg untuk dewasa
    • Box berisi 1 strip @ 5 supositoria.
    • Box berisi 10 strip @ 5 supositoria.
    Dulcolax Supositoria 10 mg untuk anak
    • Box berisi 1 strip @ 6 supositoria.
  3. Dulcolactol14

    Dulcolactol adalah bentuk sediaan sirup, mengandung Laktulosa yang bekerja melunakkan kotoran sehingga mudah dikeluarkan. Dengan kata lain Dulcolactol bekerja nyaman serta dapat dicampur dengan jus, air dan sari buah. Dulcolactol dapat digunakan untuk dewasa, manula dan anak, serta memiliki dosis untuk bayi di bawah 1 tahun. Dulcolactol tersedia dalam sediaan sirup 60 ml dengan gelas ukur untuk memberikan dosis yang tepat.

Dulcolax

Referensi:

1 Simren M, et all. Update on Rome IV Criteria for Colorectal Disorders: Implications for Clinical Practice. Curr Gastroenterol Rep. 2017. 19: 15
2 Abdullah M, Firmansyah MA. Diagnostic Approach and Management of Acute Abdominal Pain. Acta Med Indonesia J Intern Med 2012 Vol 44 (4) : 344-350.
3 Qin Hong-yan, et all., Impact of psychological stress on irritable bowel syndrome., World J Gastroenterol 2014 October 21; 20(39): 14126-14131
4 Tytgat GN., Hysocine butyilbromide : a review of its use in the treatment of abdominal cramping and pain., Drugs., 2007 ., 67(9) : 1343-1357
5 Samuels LA. Pharmacotherapy Update: Hyoscine Butylbromide in the Treatment of Abdominal Spasms. Clinical Medicine: Therapeutics. 2009:1 647–655
6 De los Santos AR, et al. Antispasmodic/analgesic associations in primary dysmenorrhea double-blind crossover placebo-controlled clinical trial Int. J. Clin. Pharm. Res. 2001; XXI(1):21-29
7 Andrew CN, Storr M. The Pathophysiology of chronic constipation. Can J Gastroenterol 2011 (25); Suppl B
8 Data U&A Dulcolax, IPSOS 2013. Random base sample, N = 997 SEC ABC1, +25-39 y.o, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya. Medan & Makasar
9 Leung, L, et al. Chronic Constipation: An Evidence-Based Review. J Am Board Fam Med. 2011;24:436–451
10 Hyams Jeffrey S., et all. Childhood Functional Gastrointestinal Disorders: Child/ Adolescent. Gastroenterology 2016;150:1456–1468
11 IMS Pharmacy Q2 tahun 2018.
12 Informasi Produk Dulcolax Tablet 2018.
13 Informasi Produk Dulcolax Supositoria 2018.
14 Informasi Produk Dulcolactol 2015.